by

Amanat BJ Habibie Untuk Kemajuan Sepak Bola Nasional

Karibkerabat.com – Banyak yang tidak tahu, media pun jarang mengekspos bagaimana perhatian BJ Habibie, Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia kepada sepak bola nasional.

Sebelum wafatnya BJ Habibie Presiden Republik Indonesai ke-3, di luar persoalan pemerintahan, bangsa dan negara yang selama ini ditangani secara cermat, tersimpan nasihat almarhum untuk kemajuan sepak bola nasional.

Ternyata yang menjadi pesan almarhum, sangat jarang diaplikasikan oleh pemimpin bangsa Indonesia yang lain dan terekspos di media massa.

Pelatih sepak bola nasional yang kini dipercaya membesut Timnas U-23  Indra Safri yang beruntung mendapatkan pesan sekaligus amanat yang ternyata selama ini sudah dipraktikan dalam setiap tim yang diasuhnya.

Berikut pesan sekaligus harapan almarhum BJ Habibie yang wafat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, 11 September 2019 lalu pukul 18.05 WIB.

BJ Habibie & Sepakbola
Sepakbola tidak hanya bicara skill dan tekhnik tapi juga moral dan spiritual

Indra bertutur, ” Bangun sepakbola tidak cukup teknis sepakbola tapi moral dan spritual juga harus dibangun ujar BJ Habibie waktu itu.”

Faktanya, pembinaan dan pelatihan sepak bola nasional mulai dari akar rumput hingga Timnas selama ini lebih berkutat hanya di sektor teknis, yaitu skill dan fisik. Jauh dari pendekatan kecerdasan intelgensi yang melahirkan kecerdasan berpikir, kecerdasan personaliti atau mental.

Saat intelegensi yang wajib menjadi pondasi tidak dibangun mulai dari bawah (pondasi) maka, efek dominonya merembet kepada tak cerdasnya berpikir, tak cerdas mental.

Tak cerdas berpikir, berbuntut tak cerdas mental inilah yang melahirkan buruknya moral (baca: karakter) siapapun pelaku sepak bola nasional, mulai dari pemain, pelatih, ofisial, pemilik klub, organisasi sepak bola dari atas hingga ke bawah, dan seluruh stakeholder terkait.

Moral dan perilaku yang buruk, cerminan atau deskripsi dari keimanan seseorang. Singkat kata, apa yang menjadi konsen almarhum BJ Habibie, ternyata melihat selama ini sepak bola nasional selalu terpuruk, disebabkan moral dan spiritual yang tidak diperhatikan.

Fakta dari analisis moral dan spiritual ini, bisa tafsirkan dari berapa banyak tim/klub sepak bola nasional yang berlatih atau bertanding di jam-jam yang seharusnya masuk waktu beribadah, semisal waktu Salat untuk umat Islam dan waktu ibadah umat beragama lain.

Dari segi moral, pemain sepak bola timnas juga wajib digaransi segi intelegensinya dari kata-kata pedagogi (kognitif, afektif, psikomotor) yang asupannya wajib benar dan seimbang dan disampaikan pula oleh ahlinya.

Siapa yang seharusnya memerhatikan dua sektor ini menurut almarhum B.J. Habibie? Menurutnya dua sektor yang wajib dikedepankan oleh siapapun pemangku kepentingan sepak bola nasional.

Selamat jalan Bapak Teknologi dan Demokrasi Indonesia dan semoga mendapatkan tempat terbaik di surgaNya. Terima kasih untuk pesan-amanat bagi kemajuan sepak bola Indonesia.

Semoga stakeholder di sepak bola nasional benar-benar dapat menjalankan amanat membangun sepak bola dengan menyentuh sektor moral dan spiritual secara benar.

Comment

Leave a Reply

News Feed