by

Jenis Pola Asuh Anak dan Dampaknya Terhadap Karakter Anak

Setiap orang tua memiliki pola asuh yang dominan dalam mendidik anaknya, berikut adalah empat jenis pola asuh anak dan dampaknya terhadap pertumbuhan dan karakter anak.


Karibkerabat.com – Pola asuh anak merupakan bagian dari proses yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak, baik dari aspek fisik, emosional, sosial, intelektual, hingga finansial.

Pola asuh anak menjadi kewajiban orang tua terhadap anak yang wajib dipenuhi. Lebih dari itu, pola asuh anak yang diberikan oleh orang tua dapat berpengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan karakter anak.

Sebagai guru pertama bagi seorang anak baik dari sisi akademik maupun nilai kehidupan secara umum, orang tua harus memaksimalkan perannya dalam mendidik anak. Agar perannya maksimal, orang tua perlu memahami dan bahkan menguasai dasar pola asuh yang baik dan cocok untuk anak sehingga mampu memenuhi hak anaknya dengan baik.

Menurut IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia), setidaknya anak membutuhkan tiga hal yang mendasar dari orang tuanya yakni asah, asih, dan asuh.  Asah merupakan stimulasi, asih merupakan kebutuhan emosi dan kasih sayang, dan asuh merupakan kebutuhan fisik anak.

Empat Jenis Pola Asuh Anak

Jenis Pola Asuh Anak

Dari perspektif ilmu psikologi, terdapat empat jenis pola asuh yang dapat diterapkan pada anak, yang mana masing-masing jenis memiliki dampaknya masing-masing terhadap pertumbuhan dan karakter anak.

Diantara keempat jenis tersebut, ada salah satu yang sangat disarankan para ahli untuk diterapkan dalam keluarga, pola asuh apakah itu? Berikut adalah beberapa jenis pola asuh anak dari sisi psikologi.

1.  Pola Asuh Authoritarian (Otoriter)

Pola asuh otoriter merupakan pola asuh yang meletakan orang tua sebagau pemegang kekuasaan tertinggi alias otoriter. Orang tua dalam hal ini cenderung memberikan kontrol yang sangat kuat pada perilaku anak.

Pola asuh jenis ini tidak memberikan ruang diskusi pada anak. Artinya ketika orang tua sedang mengutarakan pendapat, ia tidak memedulikan atau mendengar pendapat dan keinginan anak.  Anak dalam hal ini harus patuh dan kalau melanggar maka tidak jarang konsekuensinya adalah hukuman, termasuk hukuman berupa fisik.

Karakteristik otoriter yang cenderung kaku, tegas, selalu harus dianggap benar dan memiliki hukuman ketika terjadi pelanggaran dapat membentuk anak yang memiliki karakter disiplin dan patuh.

Namun, di lain sisi pola asuh ini dapat membuat anak menjadi tidak terbiasa dalam membuat keputusan sendiri dan takut mengungkapkan pendapatnya. Tak hanya itu, anak bisa stres serta berdampak terhadap perkembangan emosinya.

Ahli mengemukakan bahwa dampak pola asuh ini dapat membentuk karakter anak seperti: Tidak memiliki kekuatan memilih, tidak pandai dalam mengambuk keputusan, memiliki rasa takut bersalah, tidak memiliki keberanian untuk melakukan penolakan atau berkata tidak, takut saat harus mengemukakan pendapat, serta tidak memiliki motivasi dari dalam.

2. Pola Asuh Indulgent (Permisif)

Pola asuh permisif merupakan pola asuh yang cenderung memanjakan anak, dimana orang tua cenderung mengikuti semua keinginan anaknya. Dalam kata lain, pola asuh permisif adalah pola asuh yang berkebalikan dengan pola asuh otoriter.

Karakter orang tua dalam pola asuh ini dapat menjadi seorang teman yang baik bagi anaknya dengan perhatian, kehangan, dan interaksi yang diberikannya.

Orang tua selalu mendorong anaknya untuk berbuat apapun yang diinginkan sang anak, ia juga jarang mengatur jadwal anak, menghindari hukuman bagi anak, dan bahkan mendukung semua perilaku anak sekalipun itu negatif.

Adapun dampak pola asuh ini terhadap karakter anak antara lain, anak cenderung memiliki sifat tidak disiplin karena terbiasa bebas melakukan segala hal, memiliki perilaku yang agresif terlebih jika keinginannya tidak dipenuhi, prestasinya cenderung rendah, suka mendominasi, memiliki kepercayaan diri yang rendah, kurang mampu dalam mengendalikan diri, serta tidak memiliki arah dan tujuan hidup yang jelas.

3. Pola Asuh Authoritative (Demokratis)

Pola asuh authoritative merupakan pola asuh orang tua yang memberikan batasan perilaku yang jelas dan konsisten. Selain itu, pola asuh ini mendorong adanya diskusi antara orang tua dengan anak.

Setiap keputusan yang dihasilkan, orang tua selalu menjelaskan tujuan dan konsekuensinya kepada anak sehingga anak juga turut menyepakati keputusan tersebut.

Dalam pola asuh ini, orang tua tidak membebaskan dan menerima begitu saja perilaku anak, tapi turut juga mengontrolnya namun tidak berlebihan. Selain itu, anak juga diberikan kesempatan untuk mencoba dan bertanggung jawab pada pilihannya.

Adapun dampak pola asuh demokratis ini antara lain, anak memiliki kemampuan bersosial yang baik, anak mampu menjadi seorang problem solver, mudah bekerja sama dengan orang lain, memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan kreatif.

4. Pola Asuh Neglectful (Cuek)

Pola asuh cuek merupakan merupakan pola asyh yang minim keterlibatan orang tua di dalamnya. Orang tua disini cenderung membiarkan anak berkembang dengan sendirinya.

Orang tua dalam pola asuh ini tetap memenuhi kebutuhan fisik dasar anak seperti makan, tempat tinggal, dan pakaian. Namun, untuk kebutuhan psikologis dan emosional orang tua cenderung tidak memenuhinya.

Pola asuh ini cenderung menjadikan anak lebih banyak dididik oleh tontonan dan game yang mereka mainkan. Hal ini bisa terjadi karena berbagai latar belakang, salah satunya adalah kesibukan orang tua dalam pekerjaannya.

Saat kecil mungkin anak merasa senang dengan fasilitas yang diberikan orang tuanya. Namun, lambat laun anak akan merasa bahwa dirinya tidak penting dalam kehidupan orang tuanya sehingga cenderung menjadi anak yang mandiri.

Adapun dampak pola asuh cuek terhadap karakter anak antara lain, anak cenderung tidak memiiki kemampuan mengontrol diri sendiri, tidak memiliki kepercayaan diri, tidak mampu mengontrol emosi, serta prestasinya cenderung buruk.

Baca Juga: Karakter Pendidikan di Era 4.0

Lalu, Manakah Jenis Pola Asuh Anak yang Disarankan?

Dari empat jenis pola asuh diatas, pola asuh yang baik bagi anak dan disarankan oleh para ahli ialah pola asuh authoritative atau pola asuh demokratis.

Hal itu dikarenakan pada pola asuh ini seorang anak tetap dilibatkan untuk berdiskusi dan menghasilkan keputusan bersama yang disepakati sehingga anak mampu tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter, mampu mengemukakan pendapat, menjadi problem solver, dan lebih siap untuk bersosial.

Demikianlah beberapa jenis pola asuh anak dan dampak terhadap pembentukan karakternya. Pastikan ayah bunda menerapkan pola asuh terbaik untuk anak demi mendukung tumbuh kembangnya dan membentuk kepribadiannya dengan baik.

Comment

Leave a Reply